dark patterns dalam ux
cara aplikasi memanipulasi kita tanpa kita sadari
Pernahkah kita berniat membatalkan langganan sebuah aplikasi, lalu merasa seperti sedang terjebak di dalam labirin yang tak ada ujungnya?
Proses mendaftarnya sangat luar biasa mudah. Tombol daftarnya sebesar gajah, berwarna cerah, dan berkedip mengundang. Tapi giliran kita ingin berhenti? Tombol pembatalannya tersembunyi di balik lima lapisan menu. Tulisannya dicetak dengan font abu-abu super kecil. Lalu diakhiri dengan layar pop-up bergambar karakter sedih dengan tulisan: "Apakah Anda yakin ingin meninggalkan kami sendirian?"
Rasanya menyebalkan sekali, bukan? Tapi mari kita sepakati satu hal sejak awal. Ini bukanlah kecerobohan desainer aplikasi. Ini tidak terjadi secara kebetulan. Kesulitan yang kita alami itu adalah sebuah desain yang sangat disengaja.
Mari kita mundur sebentar ke masa lalu untuk melihat gambaran besarnya.
Pada awalnya, desain produk diciptakan murni untuk memecahkan masalah manusia. Bayangkan desain kursi yang ergonomis, atau gagang pintu yang bentuknya jelas memberi isyarat apakah harus ditarik atau didorong. Desain yang baik adalah desain yang berempati pada penggunanya.
Tapi seiring berjalannya waktu, ada pergeseran tujuan yang cukup masif. Terutama ketika layar sentuh mulai mendominasi setiap detik hidup kita. Fokus perusahaan teknologi bukan lagi sekadar memudahkan kita. Fokus utama mereka kini adalah menahan perhatian kita selama mungkin, dan mengarahkan kita pada keputusan yang menguntungkan mereka.
Di tahun 1950-an, seorang psikolog behavioris terkenal bernama B.F. Skinner melakukan eksperimen. Ia menemukan bahwa merpati akan terus-menerus mematuk sebuah tombol jika hadiah makanan diberikan secara acak, bukan terus-menerus. Prinsip yang disebut variable reward ini kemudian diadopsi besar-besaran oleh industri kasino untuk menciptakan mesin slot yang adiktif.
Kini, tanpa kita sadari, prinsip psikologi yang sama persis telah diam-diam ditanamkan ke dalam benda yang terus kita genggam.
Pertanyaannya, bagaimana persisnya aplikasi-aplikasi modern ini mengakali otak rasional kita?
Pernahkah teman-teman menyadari, kenapa kita tiba-tiba membayar ekstra asuransi perjalanan yang tidak kita butuhkan saat memesan tiket pesawat secara buru-buru?
Kenapa jantung kita tiba-tiba berdebar saat melihat tulisan merah berkedip "Sisa 2 kamar terakhir, 15 orang sedang melihat halaman ini" di aplikasi pemesanan hotel?
Atau, mengapa kita merasa ada sedikit rasa bersalah di dada saat menolak memberikan donasi checkout, karena tombol penolakannya berbunyi, "Tidak, saya tidak peduli pada lingkungan"?
Mengapa aplikasi belanja online seringkali memiliki penghitung waktu mundur (countdown timer) yang anehnya selalu di-reset ke angka awal jika kita menyegarkan halaman webnya?
Ada sesuatu yang jauh lebih gelap dan manipulatif bersembunyi di balik antarmuka aplikasi favorit kita. Sesuatu yang dirancang oleh ratusan ahli untuk membajak kerentanan otak kita secara langsung.
Inilah yang dalam dunia desain dan teknologi dikenal dengan istilah dark patterns atau pola gelap.
Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh pakar user experience (UX) Harry Brignull pada tahun 2010. Dark patterns bukanlah sekadar desain yang buruk atau error pada sistem. Ini adalah psikologi yang dipersenjatai.
Mari kita bedah apa yang terjadi di dalam tengkorak kepala kita. Otak manusia secara biologis selalu mencari jalan pintas kognitif atau heuristik untuk menghemat energi. Dark patterns mengeksploitasi jalan pintas ini dengan sangat efisien.
Saat aplikasi menampilkan penghitung waktu mundur palsu, mereka sedang memicu amigdala kita. Ini adalah pusat rasa takut dan emosi di otak. Kita diserang dengan kepanikan Fear of Missing Out (FOMO). Rasa takut kehilangan diskon ini bereaksi lebih cepat dan membanjiri otak sebelum korteks prefrontal—bagian otak kita yang logis dan rasional—sempat menganalisis situasi. Hasilnya? Kita bertindak impulsif dan menekan tombol "Beli".
Lalu ada teknik yang disebut Roach Motel atau jebakan kecoak. Sangat mudah bagi kita untuk masuk dan mendaftar, tapi setengah mati untuk keluar. Aplikasi dengan sengaja mendesain kelelahan kognitif. Semakin banyak rintangan yang mereka buat untuk membatalkan sesuatu, semakin besar kemungkinan otak kita yang kelelahan akan menyerah dan bergumam, "Ya sudahlah, bulan depan saja dibatalkan."
Ada juga Confirmshaming, di mana antarmuka memanipulasi kita secara emosional lewat kata-kata yang membuat kita merasa bodoh atau bersalah jika menolak penawaran mereka.
Teman-teman, jika kita sering terkecoh, ketahuilah bahwa ini bukan salah kita. Otak manusia hasil evolusi puluhan ribu tahun di padang sabana, tidak pernah dirancang untuk menang melawan algoritma super pintar yang diuji coba secara bersamaan pada jutaan orang setiap harinya.
Rasanya mungkin sedikit tidak adil dan menakutkan, ya? Kita seperti sedang bermain catur melawan superkomputer yang sudah tahu semua titik buta psikologis kita.
Tapi kita tidak perlu menyerah pada keadaan. Senjata terbaik dan paling ilmiah yang kita miliki untuk melawan dark patterns adalah kesadaran kognitif. Dalam psikologi, ada konsep bernama metacognition—kemampuan untuk memikirkan pikiran kita sendiri.
Ketika kita tahu nama dari jebakan-jebakan tersebut, jebakan itu seketika mulai kehilangan sihirnya.
Lain kali, saat kita merasa didesak oleh waktu di sebuah aplikasi belanja, atau merasa bersalah saat menekan tombol "Batalkan Berlangganan", berhentilah sejenak. Tarik napas dalam-dalam. Beri waktu beberapa detik agar darah kembali mengalir ke korteks prefrontal kita. Ingatlah bahwa kemungkinan besar, waktu hitung mundur yang membuat kita panik itu hanyalah barisan kode palsu.
Mari kita bersama-sama melatih otot berpikir kritis kita. Kita sepenuhnya berhak memegang kendali atas keputusan kita, waktu luang kita, dan isi dompet kita. Karena pada akhirnya, teknologi diciptakan untuk menjadi alat bantu yang melayani kehidupan kita, bukan sebagai alat yang memanipulasinya.